Orang Arab-Israel dan Yahudi Bentrok, Benarkah Rasisme Terjadi di Israel?

 

Sejumlah demonstran bentrok dengan petugas polisi di Yerusalem (TOI)

Berdunia.com - Sebuah bentrokan besar antara warga Arab-Israel dan Yahudi pecah di Lod, Israel pada (12/5/2021)

Pertikaian tersebut terjadi setelah adanya kerusuhan antara polisi Israel dan demonstran Palestina yang menolak penggusuran pemukiman Sheikh Jarrah, Yerusalem.

Sejumlah orang Yahudi, yang diduga berasal dari kalangan garis keras, membakar tempat tinggal, restoran, serta kendaraan milik warga Arab-Israel.

Sedangkan warga Arab-Israel membalas dengan melempari batu dan benda-benda tajam.

Akibatnya, seorang remaja berusia 16 tahun tewas, dan ratusan lainnya luka-luka.

Terletak di pinggiran Tel Aviv, Lod merupakan kota dengan populasi Arab-Israel dan Yahudi yang cukup seimbang.

Tak pelak, kerusuhan itu membuat Lod terbelah ke dalam dua kubu.

Meski banyak yang menghubungkannya dengan insiden di Yerusalem, sejumlah orang justru punya pandangan lain mengenai penyebab kerusuhan.

Tamer Nafar, seorang rapper Arab-Israel yang tinggal di Lod, menganggap pecahnya kerusuhan sebagai ledakan amarah warga Arab-Israel, yang mengalami diskriminasi dan rasisme dalam kehidupan sehari-hari.

Sebelumnya, lanjut Nafar, warga Arab-Israel selalu diam ketika mendapatkan perlakuan tak layak tersebut.

"Namun, kali ini berbeda. Aksi ini merupakan simbol kebangkitan setelah 70 tahun penindasan," cetus Nafar

"Secara teknis, negara ini adalah negara Yahudi. Bahkan, lagu kebangsaan nya pun mengabaikan dua juta warga Arab dan Kristen"

Ditulis ketika gerakan Zionisme baru berdiri, lagu kebangsaan Israel, Hatikvah berisi tentang harapan warga Yahudi untuk kembali ke tanah leluhur mereka. 

Tanah leluhur yang dimaksud adalah Zion (Palestina) dan Yerusalem.

Pernyataan Nafar tentu menimbulkan tanda tanya.

Apakah rasisme benar-benar terjadi di Israel?

Menurut survei yang diadakan oleh Dahaf  pada tahun 2009, sebanyak 42% hingga 56% warga Israel sepakat bahwa orang Arab-Israel cenderung mengalami rasisme dibandingkan orang Yahudi.

Perlakuan rasis tersebut meliputi diskriminasi hukum, kesenjangan sosial, hingga stigma negatif.

Baca Juga: Presiden AS: Israel Berhak Membela Diri dari Hamas

Diskriminasi Hukum

Adalah, sebuah lembaga advokasi hukum bagi minoritas Arab, mengungkapkan bahwa warga Arab-Israel kerap menjadi korban dari diskriminasi hukum yang dilakukan pemerintah dan negara.

Salah satu hukum yang paling banyak menjerat mereka adalah Undang-Undang Anti-Terorisme.

Menurut Adalah, undang-undang tersebut memperbolehkan aparat keamanan untuk mengambil tindakan apapun yang diperlukan dalam pemberantasan terorisme.

Namun, hal ini dimanfaatkan oleh polisi dan pasukan khusus untuk menekan aksi protes yang diadakan oleh warga Arab-Israel, terutama ketika unjuk rasa berubah menjadi kerusuhan.

Padahal, hanya sedikit warga Yahudi yang dipenjara ketika terlibat dalam kerusuhan.

Pada tahun 2015, Parlemen Israel meloloskan dasar hukum bagi aparat untuk melakukan penyiksaan terhadap tersangka terorisme selama interogasi.

Keputusan ini tentu semakin merugikan posisi warga Arab-Israel.

Kesenjangan Sosial

Sebuah Pemukiman Arab di Yerusalem Timur (Flickr)

Meski memiliki hak yang sama dalam memenuhi kebutuhan hidup, kesenjangan sosial antara orang Arab-Israel dan Yahudi semakin melebar dari tahun ke tahun.

Menurut data yang dikeluarkan Biro Pusat Statistik Israel tahun 2019, orang Yahudi memiliki pendapatan rata-rata sebesar 11.191 shekel (sekitar Rp 48 juta) per bulan.

Sedangkan pendapatan rata-rata orang Arab-Israel adalah sebesar 7.338 shekel (sekitar Rp 32 juta) per bulan.

Hal ini diperparah dengan munculnya anggapan bahwa orang Arab-Israel tidak kompeten dalam pekerjaan dan fanatik agama.

Alhasil, kemiskinan dan pengangguran semakin meningkat di kalangan mereka.

Stigma Negatif

Perkembangan gerakan terorisme seperti ISIS dan Al-Qaeda turut berimbas pada warga Arab-Israel.

Mereka kerap dicurigai sebagai teroris dan terlibat dalam gerakan fundamentalisme Islam.

Stigma tersebut membuat kehidupan masyarakat Arab-Israel semakin sulit.

Banyak perusahaan kehilangan kepercayaan terhadap warga Arab-Israel, sehingga menolak untuk menerima mereka.

Meski demikian, nasib kelompok minoritas di Israel masih lebih baik dibandingkan di negara Timur Tengah lainnya, dimana minoritas seringkali diburu dan menjadi korban pembantaian.

Hal ini dikarenakan konstitusi Israel masih menjunjung tinggi kesetaraan dan keberagaman sebagai bagian dari demokrasi.

Artinya, komunitas Arab-Israel memiliki kesempatan besar untuk memperjuangkan hak mereka di ranah hukum.